Gempa Bumi, Edukasi, dan Mitigasi



SEBELUMNYA, izinkan penulis menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada saudara-saudara yang tertimpa musibah gempa bumi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen, pada Selasa 7 Desember 2016. Semoga Allah Swt mengampuni dosa para korban dan memberikan kesabaran bagi keluarga korban.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa gempa tersebut terjadi pada koordinat 5.19 LU,96.36 BT sekitar 18 km TimurLaut Kabupaten Pidie Jaya. Gempa ini berkekuatan kuat dengan magnitudo 6.4 Mw yang sumber gempanya pada kedalaman 10 Km. Berdasarkan kekuataan gempa dan kedalaman sumber gempa yang dangkal, gempa bumi pada 7 Desember 2016 tergolong gempa merusak. Gempa tersebut memiliki pola mekanisme fokus sesar geser yang dipengaruhi sesar naik.

Jika merujuk pada peta seismotektonik yang dipublikasikan dalam buku Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolutionoleh Barber & Crow, tahun 2005 menjelaskan adanya sesar Samalanga-Sipopok yang menerus mulai dataran tinggi Gayo sampai ke ujung pantai utara Aceh yang melintasi Kabupaten Pidie Jaya. Sesar ini adalah sesar darat yang menerus sampai ke laut.

Kejadian gempa Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 kemungkinan besar akibat aktivitas pergerakan dari sesar Samalanga-Sipopok. Sesar ini juga yang menjadi sumber gempa bumi di dataran tinggi Gayo pada 3 Juli 2013 lalu. Berdasarkan sejarah kejadian gempa bumi di wilayah Aceh, pada lokasi ini setidaknya pernah terjadi dua kali gempa bumi, yaitu pada 1942 dan 1967 yang kekuatannya lebih dari skala 6.

Sesar aktif

Daratan Aceh sebenarnya terdapat beberapa sesar yang berkemungkinan juga aktif. Sesar-sesar aktif tersebut adalah Zona Sesar Sumatra yang merupakan sesar utama yang memanjang mulai dari Kota Agung di Lampung, menerus sampai Kota Banda Aceh. Zona Sesar Sumatra di wilayah Aceh terbagi dalam tiga segmen yaitu segmen Tripa, segmen Seulimeum, dan segmen Aceh.

Selain itu, terdapat beberapa sesar aktif yang merupakan pencabangan dari Zona Sesar Sumatra yaitu Sesar Batee, Sesar Samalanga-Sipopok, Sesar Lhokseumawe, Sesar Lokop-Kutacane serta beberapa sesar minor lainnya. Kebanyakan dari sesar-sesar tersebut di atas belum terpelajari dengan baik. Sehingga dibutuhkan penelitian yang dilakukan secara terpadu (geologi, seismologi dan geodesi) untuk memahami mekanisme dan geometri sesar serta tingkat keaktifan sebuah sesar.

Beberapa sesar yang tersebut di atas seperti Sesar Lhokseumawe, Sesar Lokop-Kutacane serta beberapa sesar minor masih jarang merilis gempa bumi. Kondisi ini memberikan perhatian kepada kita bahwa wilayah Aceh masih berpotensi terjadi gempa di masa yang akan datang. Sesar aktif yang sepi dari gempa bumi kemungkinan adanya proses akumulasi energi yang suatu waktu akan terlepas dalam bentuk energi gempa.

Hal seperti ini yang menjadi sebuah kekhawatiran bagi kita yang belum siap dengan upaya-upaya mitigasi bahaya gempa bumi. Sehingga menjadi penting untuk melakukan langkah-langkah mitigasi bahaya gempa bumi guna mengurangi dampak risiko yang mungkin terjadi.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir daratan Aceh sering disapa oleh gempa bumi. Beberapa gempa bumi yang terjadi di daratan tergolong gempa yang merusak karena magnitudonya lebih dari 5. Seperti yang terjadi di Tangse pada 2011, 2012, Gayo 2013 dan terakhir di Pidie Jaya 2016.

Kejadian gempa-gempa tersebut memberikan indikasi bahwa daratan Aceh merupakan salah satu wilayah yang sangat rawan bahaya gempa bumi. Sehingga sikap kesiap-siagaan dan langkah mitigasi menjadi penting untuk dilakukan.

Kita sepakat bahwa gempa bumi tidak membunuh, akan tetapi gagalnya struktur dan reruntuhan bangunan yang dapat mengakibatkan cidera dan kematian. Untuk itu menjadi penting untuk merancang struktur bangunan yang mampu beradaptasi pada goncangan gempa pada skala tertentu.

Migasi bencana

Saat gempa bumi menyapa, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah upaya mitigasi bencana. Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik dari pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Kerusakan parah pada beberapa bangunan yang terjadi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Bireuen yang diakibatkan oleh goncangan gempa bumi yang terjadi pada 7 Desember 2016, memberikan setidaknya dua kemungkinan, yaitu: Pertama, kondisi struktur bangunan yang lemah terhadap goncangan gempa, dan; Kedua, terjadinya amplifikasi karena sebagian besar lapisan batuannya adalah aluvial yang relatif lebih lunak.

Dengan adanya dua kemungkinan sebagaimana tersebut pada paragraf di atas, setidaknya ada dua hal yang menurut hemat penulis yang perlu dilakukan untuk mitigasi gempa di kemudian hari. Pertama, melakukan penyelidikan dan penilaian pada setiap struktur bangunan khususnya bangunan publik seperti mesjid, rumah sakit, bangunan sekolah, dan perkantoran, dan; Kedua, melakukan survei mikrozonasi untuk memahami lebih rinci kondisi batuan, menghitung percepatan gelombang di batuan dasar serta kajian bahaya kegempaan (seismic hazard assessment).

Selain dua hal tersebut di atas, dalam upaya mitigasi bencana khususnya gempa bumi juga dibutuhkan edukasi kepada masyarakat. Upaya edukasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap potensi bahaya dan sumber gempa bumi, serta upaya mitigasi yang harus dilakukan. Harapannya, muncul kesadaran di masyarakat yang bermukim pada daerah potensi gempa bumi untuk terbiasa melakukan langkah mitigasi secara tepat mandiri. Sehingga saat gempa bumi menyapa kapan saja, tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan dan sudah siap-siaga untuk menghadapinya.

Terakhir, penulis mencoba mengutip satu Firman Allah Swt dalam Alquran, “Katakanlah, kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” (QS. Al-Mu’minun: 84). Semua itu milik Allah Swt dan Dia yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang ada di bumi, kita manusia hanya bisa berusaha. Nah!

* Zulfakriza Zulhan, Doktor bidang Seismologi, anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia. Email: zulfakriza@gmail.com

Subscribe to receive free email updates: