Akhlak Rasulullah

Akhlak Rasulullah
Akhlak Rasulullah

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

SUATU ketika Ummul Mukminin Aisyah ra, ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah saw, ia menjawab: Khuluquhu al-Qur’an (Akhlak beliau adalah Alquran). Tidakkah engkau membaca firman Allah Swt, “Sungguh engkau berbudi pekerti yang agung.” Bahwa apa saja yang diperintahkan Alquran pasti beliau lakukan, dan apa saja yang dilarang Alquran beliau tinggalkan. Selain memang Allah Swt telah menciptakan beliau dengan sebaik-baik tabiat dan akhlak, seperti rasa malu, dermawan, berani, pemaaf, sangat sabar dan lainnya sebagai perangai yang baik.

Keindahan akhlak ini tampak dari diri beliau baik dengan istri dalam rumah tangga, sanak famili, sahabat, masyarakat, negara, bahkan dengan musuhnya. Tidak heran masyarakat Quraisy yang dikenal paganis, menyembah berhala, sudah pernah memberi gelar kepada Muhammad dengan al-Amin, karena pada diri beliau melekat empat sifat terpuji, yakni shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Dari keempat sifat tersebut, Rasulullah saw telah meraih kesuksesan gemilang baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, sehingga Michael H Hart menempatkan beliau pada peringkat nomor satu dalam daftar Seratus Tokoh yang mempunyai pengaruh besar dan sukses dalam pentas sejarah dunia.

Rasulullah saw sebagai pemimpin yang tiap hari sibuk dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka, bukanlah menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istri di rumah, sebagaimana diungkapkan Aisyah ra, ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah saw saat berada di rumah, Aisyah mengatakan, “Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluar untuk menunaikan shalat.” (HR. Bukhari Muslim)

Sebagaimana manusia lainnya, “Rasulullah saw, juga membersihkan pakaian, memerah susu kambing dan melayani diri sendiri.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi). Menurut Ibnu Hajar, hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah diri dan meninggalkan kesombongan serta seorang suami yang membantu istrinya (Ibnu Hajar, Fathul Bari II/163).

Penuh pengertian

Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri sangat melekat pada diri Rasul. Aisyah ra, menuturkan tentang kasih sayang dan pengertian beliau, “Termasuk akhlak Nabi saw, beliau sangat baik dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri suka bersenda gurau dan bercumbu rayu, bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisyah ra berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.”

Hal tersebut tidak sebagaimana yang kita saksikan pada sebagian suami dewasa ini, yang merasa terhina jika melakukan hal-hal seperti ini. Bahkan, merasa dirinya rendah jika membantu istri mencuci, memasak, dan menyelesaikan beberapa urusan rumah tangga., apalagi jika mereka para suami sebagai pajabat. Maka seakan-akan pekerjaan seperti ini tidak pantas mereka kerjakan. Atau mereka merasa ini hanyalah tugas ibu-ibu dan bukan tugas suami.

Rasulullah saw adalah sosok pribadi yang dalam prilaku kesehariannya selalu mencerminkan akhlakul karimah. Untuk sekadar menjadi renungan perlu mengingatkan kembali secuil suri teladan Rasulullah saw berikut; Tatkala seorang tokoh Quraisy mencegat Rasulullah di tengah jalan, lalu menyiramkan tanah di atas kepalanya. Muhammad saw diam menahan pedih, kemudian pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, putrinya, kemudian datang menyucikan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis.

Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis sang anak. Lebih-lebih anak perempuan. Setitik air mata kepedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar jantung. Beliau pun tak kuasa menahan getir, lalu menangis tersedu-sedu di sisi sang putri. Juga, secercah duka yang menyelinap ke dalam hati adalah rintihan jiwa yang terasa mencekik leher, dan hampir pula menyuluti emosinya untuk membalas. Tetapi Rasulullah adalah seorang yang sabar dan pemaaf. Lalu, apakah yang beliau lakukan dengan tangis putrinya yang baru saja kehilangan sang ibu tercinta itu?

Rasulullah Muhammad saw hanya bisa menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku,” ucap sang ayah kepada putrinya yang sedang berlinang air mata itu. “Allah akan melindungi ayahmu.” Inilah akhlak mulia yang telah diperlihatkan oleh Rasul kepada kita semua. Menolak kejahatan dengan kebaikan, meskipun ajaran agama memberikan kesempatan pada Rasul yang telah diperlakukan secara tidak manusiawi (zalim) untuk mengadakan perlawanan demi membela diri, bahkan, apabila mau bisa membalas, namun Rasulullah memilih sabar dan memaafkan perbuatan keji tersebut.

Sungguh, membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, tidak dikenakan sanksi dosa, karena dosa itu hanya berlaku bagi orang-orang yang berbuat aniaya (zalim) tanpa berpijak pada logika kebenaran. Namun, agama lebih mengutamakan sikap sabar dan saling memaafkan, ketimbang sikap saling membalas dan saling memusuhi. Kejahatan hendak dibalas dengan kejahatan, tentulah bukan sebuah pilihan yang baik bagi responsibiliti moral sebuah agama.

Allah Swt berfirman, “Dan, kalau kamu hendak melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi, kalau kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, karena berpegang kepada pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula engkau bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan.” (QS. Al-Nahl: 126-127).

Rasulullah saw meninggalkan tiga macam perbuatan, yaitu: Beliau tidak mau mencela seseorang atau menjelekkannya, tidak pernah mencari-cari kesalahan seseorang, dan tidak akan berbicara kecuali yang baik saja (yang bermanfaat). Rasulullah saw adalah suri teladan kita. Beliau dijuluki sebagai the living Qur’an (Alquran hidup). Dan ini diperkuat oleh pernyataan Aisyah ra, “Akhlak beliau (Rasulullah) adalah Alquran.” (HR. Abu Daud dan Muslim).

Rasulullah saw juga sangat rendah hati. Walau seorang pemimpin agung, beliau tidak mau disanjung dan dihormati serta dielu-elukan. Anas bin Malik ra berkata, “Para sahabat yang mau berdiri menyambut kehadiran Rasulullah, tidak jadi berdiri, ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu.” (HR. Ahmad). Walaupun beliau sibuk dengan pekerjaannya, tapi jika mendengar azan, beliau segera ke masjid. Belum pernah Rasulullah shalat di rumah kecuali shalat sunah.

Tak pernah marah

Sifat Rasulullah yang lain ialah mudah berkomunikasi dengan siapa pun, berlaku sopan, lemah lembut, sabar, tidak pernah marah walau disakiti, namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Sehingga, tidaklah berlebihan kalau Allah Swt sendiri memujinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Seorang musuh bernama Da’tsur menghampiri Rasulullah saw yang sedang beristirahat. Dengan pedang terhunus (Da’tsur) berkata, “Siapa lagi yang dapat menyelamatkan engkau?” Dengan tenang Rasulullah saw menjawab, “Allah!” Tiba-tiba pedang terlepas dari tangan Da’tsur, sebagai satu mukjizat Allah pada Rasulullah. Maka Rasulullah pun mengambil pedang itu dan mengangkatnya ke hadapan musuh dan bertanya, “Siapa pula yang dapat menyelamatkan kamu sekarang! “Tiada siapa-siapa lagi,” jawabnya. Lantas Nabi pun memaafkannya. Sehingga karena itu orang tersebut berkata pada kawan-kawannya, “Aku baru kembali dari berjumpa dengan sebaik-baik manusia.”

Sebelum mengakhiri, baik juga merenungkan kembali ibadah beliau. Suatu malam selesai beliau shalat malam, Aisyah ra bertanya, “Ya Rasulullah, Anda adalah orang yang sudah dijamin oleh Allah dengan surga-Nya, Anda juga ma’shum (terjaga dari dosa), diampuni oleh Allah, namun mengapa Anda terus melakukan shalat sampai nyaris, kaki Anda bengkak? Beliau menjawab, afala akuuna `abadan syakura (apakah aku tidak senang, kalau aku berpredikat sebagai hamba Allah yang pandai bersyukur?). Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum/Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id

Subscribe to receive free email updates: